Herman Hofi Munawar: Natal 2025 Kondusif, Toleransi Jadi Kunci Persatuan Bangsa
- account_circle admin
- calendar_month Kam, 25 Des 2025
- visibility 95
- comment 0 komentar

Indo-sight.com | Pontianak, Kalbar — Alumni Lemhannas, Herman Hofi Munawar, menyatakan bahwa perayaan Natal tahun 2025 di Kalimantan Barat berlangsung aman, tertib, dan kondusif tanpa adanya gangguan keamanan yang berarti.
“Alhamdulillah, perayaan Natal tahun 2025 ini berjalan dengan baik, tidak ada gangguan dalam bentuk apa pun. Kita patut berterima kasih kepada aparat Kepolisian dan TNI yang terus memantau serta mengantisipasi berbagai potensi gangguan yang tidak kita inginkan bersama,” ujar Herman Hofi Munawar,Kamis (25/12).
Ia menegaskan bahwa situasi kondusif tersebut mencerminkan kuatnya nilai-nilai kebhinekaan sebagai warisan luhur bangsa yang terus terjaga dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Herman, esensi semua ajaran agama pada akhirnya bermuara pada nilai universal, yakni cinta dan kasih sayang terhadap sesama.
“Kita semua tahu, apa pun yang dipelajari dalam agama, ending-nya adalah membumikan cinta dan kasih sayang. Apa artinya beragama dan beribadah jika nilai cinta dan kasih sayang tidak tertanam dalam jiwa manusia,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat prinsip tasamuh (toleransi) yang sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Prinsip ini menempatkan penghormatan terhadap perbedaan sebagai bagian integral dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam Al-Qur’an, lanjutnya, ditegaskan prinsip lakum dînukum wa liya dîn (untukmu agamamu dan untukku agamaku) sebagai fondasi pengakuan atas eksistensi keyakinan lain tanpa mencampuradukkannya, namun tetap menjaga perdamaian.
Herman juga mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah memberi teladan melalui Piagam Madinah dalam membangun masyarakat majemuk. Piagam tersebut menjamin hak umat Yahudi dan Nasrani untuk hidup berdampingan secara damai dan menjalankan ibadahnya, selama tidak memerangi umat Islam.
“Toleransi bukan berarti membenarkan keyakinan orang lain, tetapi menghargai hak mereka sebagai sesama warga negara. Menjaga kerukunan adalah bentuk cinta tanah air, karena perpecahan hanya akan melemahkan bangsa dan merugikan semua pihak,” ujarnya.
Ia menambahkan, konflik yang sering mengatasnamakan agama pada kenyataannya kerap dipicu oleh kepentingan politik atau adu domba pihak tertentu. Karena itu, masyarakat diminta untuk menjaga kejernihan berpikir dan tidak mudah terpancing provokasi.
“Kerukunan adalah modal utama pembangunan. Tanpa kedamaian, tidak ada ibadah yang bisa dijalankan dengan tenang oleh siapa pun,” katanya.
Herman menegaskan bahwa menghalangi orang lain beribadah bukanlah ajaran Islam. Sebaliknya, Islam mengajarkan kebersamaan dan perdamaian sebagai wujud dari ajaran rahmatan lil ‘alamin.
“Jangan biarkan kebencian merusak kerukunan yang sudah kita bangun bertahun-tahun. Mari kita berikan rasa aman bagi sesama untuk menjalankan keyakinannya. Persatuan adalah kekuatan kita,” tutup Herman Hofi Munawar..
Sumber/Herman Hofi Munawar
Red/Gun*
- Penulis: admin






Saat ini belum ada komentar